Social Icons

Featured Posts

Sunday, December 30, 2012

Reinkarnasi

Penulis : T.G. Putra. Reinkarnasi sama artinya dengan Punarbawa atau Samsara. Punarbawa berasal dari bahasa sansekerta dari kata Punar yang artinya kembali dan Bawa yang artinya lahir. Jadi Punarbawa adalah suatu kepercayaan tentang kelahiran yang berulang ulang atau suatu proses kelahiran yang biasa disebut dengan penitisan, reincarnatie atau samsara.
Kalau ada kelahiran berulang ulang berarti ada kematian yang berulang ulang atau hidup yang berulang ulang. Memang kedengarannya aneh tetapi nyata, kelahiran dapat terjadi berulang ulang beberapa kali tanpa batas.
Didalam Bhagawad Gita Krisna mengatakan : Wahai Arjuna, Kamu dan Aku telah lahir berulang ulang sebelum ini, hanya aku yang tahu sedangkan kamu tidak, kelahiran sudah tentu akan diikuti oleh kematian dan kematian akan diikuti oleh kelahiran.

Moksa Adalah Pembebasan Atma dalam Agama Hindu

Oleh T.G. Putra. Dalam agama Hindu kita percaya adanya Panca Srada yaitu lima keyakinan yang terdiri dari, Brahman, Atman, Karma Pala, Reinkarnasi, dan Moksa. Moksa berasal dari bahasa sansekreta dari akar kata "MUC" yang artinya bebas atau membebaskan. Moksa dapat juga disebut dengan Mukti artinya mencapai kebebasan jiwatman atau kebahagian rohani yang langgeng. Jagaditha dapat juga disebut dengan Bukti artinya membina kebahagiaan, kemakmuran kehidupan masyarakat dan negara.

Jadi Moksa adalah suatu kepercayaan adanya kebebasan yaitu bersatunya antara atman dengan brahman. Kalau orang sudah mengalami moksa dia akan bebas dari ikatan keduniawian, bebas dari hukum karma dan bebas dari penjelmaan kembali (reinkarnasi) dan akan mengalami Sat, Cit, Ananda (kebenaran, kesadaran, kebahagian).

Gender Dan Swadharma Warga Rumah Tangga Dalam Perspektif Agama Hindu

Oleh : Ida Bagus Agung. Manusia sejak lahir sudah dibuatkan identitas oleh orang tuanya. Sebagai contoh anak laki-laki diberi nama Kartono, sedangkan anak perempuan diberi nama Kartini. Melalui proses belajar manusia membedakan jenis kelamin laki-laki dan perempuan tidak hanya memandang dari aspek biologisnya saja, tetapi juga dikaitkan dengan tugas dan kewajiban (swadharma) atau fungsi dasarnya dan kesesuaian pekerjaannya. Dari proses belajar ini barangkali yang memunculkan teori “gender” yang dijadikan sebagai pijakan berpikir sehingga menjadi “ideologi gender.” Ideologi gender merupakan dasar berpikir yang membedakan dua jenis manusia berdasarkan “kepantasannya.” Melalui ideologi gender manusia menciptakan “kotak” untuk lakilaki dan “kotak” untuk perempuan sesuai dengan pengalaman yang diperolehnya. 

Pura Gunung Raung

Pura Gunung Raung ini berlokasi di Desa Taro kecamatan Tegalalang kabupaten Gianyar, berjarak disekitar 25 km dari kota gianyar atau sekitar 42 km dari kota Denpasar. Letak pura diantara dua buah aliran sungai , yaitu sungai Mas dan sungai Ayung. Suasana di sekitar pura sangat alamiah, seperti suasana pedesaan pada umumnya. Disebelah selatan pura terdapat pemukiman penduduk sedangkan dibagian barat dan timurnya masih hutan.
Dari Diktat kumpulan hasil penelitian Pura IHD disebutkan bahwa pada umumnya tata letak pura yang terdapat pada suatu desa Kuno di Bali berlokasi di hulu dan hilir dari desa tersebut. Oleh karena itu dengan melihat letak /lokasi dari pura Gunun Raung yang terletak di desa Taro itu terletak di sebelah hilir dari banjar Taro Kaja, dimana banjar Taro Kaja merupakan penyungsung dari pura Gunung Raung. Sedangkan disebelah Hulu dari banjar Taro ini terdapat pura Desa maka dari peletakan kedua pura ini dapat disimpulakan bahwa Banjar Taro Kaja merupakan salah satu Desa Kuno yang ada di Bali. Keadaan ini buakn merupakan kebetulan tetapi merupakan penerapan dari konsep Ruabhineda.
Sejarah

Pura Lempuyang Luhur

Pura Lempuyang Luhur terletak di Bukit Gamongan, pada puncak puncak bukit Bisbis atau Gunung Kembar di desa Purahayu, kecamatan Abang, kabupaten Karangasem. Jaraknya dari kota AmlaPura lebih kurang 22 km, arah keutara melalui Tirtagangga menuju desa Ngis di kecamatan Abang kemudian membelok ketimur langsung ke desa Purahayu. Kendaraan bermotor maupun dengan sepeda hanya bisa sampai di desa Ngis, kemudian berjalan kaki menuju desa Purahayu dan selanjutnya berjalan diatas bukit menuju Pura yang berada di puncak bukit Bisbis.
Perjalanan yang memakan waktu lebih kurang 3 jam itu cukup berat dan memayahkan, karena kadang-kadang menemui jalan yang sempit dan berjurang terjal, serta meanjak terus. Namun kepayahan itu dapat diimbali dengan indahnya panorama yang dapat dinikmati dari atas bukit selama pendakian itu. Lebih-lebih dari puncak Lempuyang pemandangan ke arah utara sangat indah, kelihatan pantai Amed dan desa Culik, ke Timur Gunung Seraya, ke Selatan kota AmlaPura, Candi Dasa, Padangbai dengan lautnya yang membiru dan ke Barat kelihatan desa-desa yang berada di bawah seperti Desa Ngis, Basang alas, Megatiga serta Gunung Agung yang nampak indah. Pura Lempuyang Luhur termasuk Pura Sad Kahyangan di Bali (Menurut Lontar Widisastra) yang juga merupakan kahyangan jagat yang termasuk salah satu dari "Pura-Pura" delapan penjuru angin di Pulau Bali.

Pura Agung Besakih

Pura Besakih terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, kabupaten Karangasem. Letak Pura ini di kaki Gunung Agung pada lereng Barat Daya pada ketinggian lebih kurang 1000 meter dari permukaan laut yang berjarak dari kota Denpasar lebih kurang 59 km. Gunung Agung yang tingginya lebih kurang 3142 meter adalah gunung yang tertinggi di bali, dan merupakan gunung berapi yang kini masih aktif. Menurut catatan yang ada, gunung Agung sudah pernah meletus lima kali yaitu pada thn 1089, tahun 1143, tahun 1189 dan terakhir pada tahun 1963, yang menimbulakn banyak korban terutama didaerah karangasem dan klungkung. Menurut perkiraan Besakih diambil dari kata "Basuki" yang artinya "Selamat" yang mana dihubungkan dengan riwayat penanaman Panca Datu (lima jenis Logam) oleh Rsi Markandeya.

Apa itu Pura ?

Sesungguhnya kata "Pura" berasal dari akhiran bahasa Sansekerta (-pur, -puri, pura, -puram, -pore), yang mengandung arti kota, kota berbenteng, atau kota dengan menara atau istana. Dalam perkembangannya istilah "Pura" menjadi khusus untuk tempat ibadah terutama di bali, sedangkan kata "Puri" diartikan khusus untuk tempat tinggal para raja dan bangsawan. Pada perkembangannya pura di bali dapat di bagi menjadi empat sesuai dengan tujuan dan tempat pura itu didirikan seperti Pura Kahayangan Jagat, Pura Kahyangan Desa, Pura Swagina dan Pura Kawitan.