Social Icons

Sunday, December 30, 2012

Gender Dan Swadharma Warga Rumah Tangga Dalam Perspektif Agama Hindu

Oleh : Ida Bagus Agung. Manusia sejak lahir sudah dibuatkan identitas oleh orang tuanya. Sebagai contoh anak laki-laki diberi nama Kartono, sedangkan anak perempuan diberi nama Kartini. Melalui proses belajar manusia membedakan jenis kelamin laki-laki dan perempuan tidak hanya memandang dari aspek biologisnya saja, tetapi juga dikaitkan dengan tugas dan kewajiban (swadharma) atau fungsi dasarnya dan kesesuaian pekerjaannya. Dari proses belajar ini barangkali yang memunculkan teori “gender” yang dijadikan sebagai pijakan berpikir sehingga menjadi “ideologi gender.” Ideologi gender merupakan dasar berpikir yang membedakan dua jenis manusia berdasarkan “kepantasannya.” Melalui ideologi gender manusia menciptakan “kotak” untuk lakilaki dan “kotak” untuk perempuan sesuai dengan pengalaman yang diperolehnya. 

Ciri-ciri laki-laki dan perempuan “dikunci mati” oleh ideologi gender (A. Nunuk Prasetyo Murniati, 1993:4).
Salah satu dampak negatif dari ideologi gender adalah terbentuknya budaya patriarkhi di mana kedudukan perempuan ditentukan lebih rendah daripada laki-laki atau dalam masyarakat terjadi dominasi laki-laki. Dalam keluarga kedudukan laki-laki lebih tinggi, suami lebih berkuasa, suami yang di depan sementara isteri di belakang saja. Budaya patriarkhi menjadi/memberi “warna” dari kehidupan sosial.
Sejak awal-awal kehidupan manusia, maka ternyata keluarga (perkawinan) merupakan salah satu lembaga yang efektif untuk pembentukan pribadi manusia. Dalam kitab Veda Smrthi tersurat sebagai berikut:
Tatha nitya yateyatam,
stripumsau tu kritakriyau
Jatha nabhicaretam tau Wiyuktawitaretaram
(Weda smrthi. IX.102) Artinya:
Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan,
mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya supaya mereka tidak bercerai
dan jangan hendaknya melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lain.
Anyonyasyawayabhicaro, bhawedamaranantikah, Esa dharmah samasena, jneyah stripumsayoh parah.
(Weda Smrthi IX.101) Artinya:
Hendaknya hubungan yang setia berlangsung sampai mati,
Singkatnya ini harus dianggap sebagai hukum yang tertinggi sebagai suami-isteri.
Berdasarkan sloka di atas perkawinan merupakan awal dari terbentuknya sebuah keluarga yang berlangsung sekali dalam hidup manusia. Warga rumah (suami dan isteri), wajib menjaga kesucian masing-masing, hidup rukun dan damai, tenteram, bahagia, mengupayakan terbinanya kepribadian dan ketenangan lahir dan batin dalam upaya menurunkan anak yang baik.
Dalam kitab Rg Veda dinyatakan laki-laki dan perempuan sebagai suami-isteri disebut dengan satu istilah “dampati” yang artinya tidak dapat dipisahkan. Dalam agama Hindu perempuan diakui sejajar dengan laki-laki. Dalam kitab chandokya upanisad disebutkan bahwa semua manusia tanpa membedakan jenis kelamin berasal dari sumber yang sama yaitu Tuhan. Kitab Chandogya Upanishad menyatakan bahwa: Tuhan adalah jiwa dari seluruh alam semesta ini. Tuhan adalah hakekat kenyataan, Tuhan adalah kebenaran sejati, beliaulah Paramatman (sumber dari jiwa), Engkau adalah itu (tat-twam-asi).
Berdasarkan Weda Smrthi, perkawinan memiliki sifat yang religius (sacral) karena dihubungkan dengan tugas untuk menghasilkan turunan yang suputra (Put artinya neraka dan Tra artinya menyelamatkan, menyeberangkan). Di dalam kitab Slokantara disebutkan mempunyai seorang putra itu lebih berguna dari pada melakukan seratus korban suci (yadnya) asal lahir anak yang utama (wisesa). Perkawinan menurut pandangan Hindu bukanlah sekedar legalitas hubungan biologis semata, tetapi merupakan suatu peningkatan nilai berdasarkan hukum agama.Wiwaha Samskara merupakan upacara sakral, atau sakralisasi suatu peristiwa kemanusiaan yang bersifat wajib bagi umat Hindu (Weda Smrthi II.67).
Dalam upacara perkawinan, umat Hindu memuja Tuhan dalam aspek sebagai Dewa Ardha Nareswari.Tuhan dalam aspeknya sebagai Dewa Ardha Nareswari disimbulkan laki-laki dan perempuan dalam satu badan. Simbol ini menggambarkan bahwa laki-laki dan perempuan harus bersatu padu dan bekerjasama dalam kesetaraan. Hubungan suami dan isteri bagaikan api dengan panasnya.
Tujuan hidup manusia Hindu yaitu tercapainya kesejahteraan atau kebahagiaan lahir dan batin (moksartham jagathittha). Moksa adalah bersatunya atma ke dalam Paramatma (Brahman) sehingga tercapailah kebahagiaan yang sejati. Sedangkan jagadhita adalah kebahagiaan jasmani, kebahagiaan karena benda-benda materi. Tujuan hidup manusia secara lebih lengkap terangkum dalam kitab Brahmana Puranayang menyatakan bahwa dharma artha kama moksanam sariram sadhanam, yang artinya badan wadag ini adalah dipergunakan untuk mendapatkan dharma, artha, kama, dan moksa. Dharma adalah kebenaran, arthaadalah kekayaan materi, kama adalah hawa nafsu, dan moksa adalah kebahagiaan yang sejati. Dengan demikian tujuan hidup manusia Hindu adalah melaksanakan dharma, mengejar harta, menikmati kama, dan mencapaimoksa.
Keempat tujuan hidup manusia Hindu tersebut tidak bisa dilepaskan begitu saja keberadaannya dengan periodesasi/masa kehidupan yang dikenal dengan nama Catur Asrama yaitu Bramacari Asrama, Grahastha Asrama, Wanaprastha Asrama, dan Bhiksuka Asrama. Brahmacari Asrama adalah masa menuntut ilmu pengetahuan dan keterampilan. Grahastha Asrama adalah masa membangun keluarga yang diawali dengan upacara perkawinan. Wanaprastha Asrama adalah masa memperdalam ajaran agama, mencari kebenaran tentang arti hidup yang sebenarnya. Masa ini adalah masa mengasingkan diri. Bhiksuka Asrama adalah masa pelepasan secara total ikatan-ikatan keduniawian dengan hidup berkelana melakukan pengembaraan spiritual, misalnya dengan melakukan dharma Yatra yaitu mengunjungi tempattempat yang suci untuk melakukan penyucian diri.
Sebagai pedoman dan tuntunan dalam kehidupan berumah tangga agar tercapai kebahagiaan hidup, maka warga rumah wajib melakukan komunikasi spiritual secara rutin dengan Tuhan, hubungan yang harmonis dengan sesama manusia, dan hubungan yang harmonis dengan alam lingkungannya (Tri Hita Karana).
Sesuai dengan ajaran Hindu, warga rumah (suami, isteri, anak, cucu, dan lain-lain) dilarang untuk melakukan himsa karma, yaitu perbuatan yang mengorbankan, menyengsarakan, atau menyakiti diri sendiri atau orang lain. Kitab Sarasamuccaya, sloka 90 menyatakan sbb:
“Karena itu hendaknya dikekang, diikat kuat-kuat panca indera dan pikiran itu, jangan dibiarkan akan melakukan tindakan melanggar, melakukan sesuatu yang tercela, sesuatu yang tidak membawa kebahagiaan, sesuatu yang pada akhirnya tidak menyenangkan.“
Kewajiban Anggota Keluarga Hindu.
Dalam sebuah keluarga minimal terdiri dari suami (bapak), isteri (ibu), dan anak yang masing-masing memiliki tugas dan kewajiban sebagai warga rumah. Tugas dan kewajiban isteri dan suami secara umum yang harus dilaksanakan antara lain: Suami-isteri wajib saling mencintai, hormat-menghormati dalam kesetaraan, setia, saling membantu baik lahir maupun batin. Setelah mempunyai putra (santana), suami-isteri bekerjasama mendidik putra-putrinya sebaik-baiknya sampai putra-putrinya kawin dan dapat berdiri sendiri. Hubungan cinta kasih antara suami-isteri harus dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya. Di samping itu suamiisteri berkewajiban mempelajari dan menjalankan ajaran-ajaran agama. Di samping mendalami ajaran tatwa agama, juga melaksanakan upacara keagamaan serta ajaran kesusilaan (etika agama) seperti Trikaya Parisudha, Catur Paramita, Panca Yamabratha, Panca Nyamabratha, Dasa Dharma, Dasa Paramita, dan lain-lain. Secara khusus tugas dan kewajiban suami, isteri, dan anak diatur sebagai berikut:
1. Tugas dan Kewajiban Suami.
Laki-laki disebut suami karena ia mempunyai isteri. “Suami” berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “pelindung.” Ini berarti tugas suami adalah melindungi isteri dan anakanak. Juga menjaga keutuhan keluarga dengan menghindari perceraian, mendidik isterinya untuk melakukan penyucian diri (bratha), memberi benih putra-putri yang luhur (Rg Veda.X.85.25).
Suami dan isteri dalam keluarga diumpamakan sebagai akasa dan pertiwi atau benih dengan tanah yang tertuang dalam kitab Weda Smrthi sebagai berikut: “Wanita dinyatakan sebagai tanah, laki-laki dinyatakan sebagai benih; jazad badaniah yang hidup terjadi karena hubungan antara tanah dengan benih.“
Sloka di atas menegaskan bahwa seorang suami mempunyai tugas sebagai pemrakarsa, pencetus, pemimpin dalam rumah tangga. Dengan demikian keluarga Hindu menganut sistem kebapakan (Sang Purusa, Patriarchat).
Dalam kitab Sarasamuccaya 242, suami atau bapak mempunyai kewajiban membangun jiwa dan raga anaknya:
1) Sarirakrt , artinya mengupayakan kesehatan jasmani anak.
2) Prana data, artinya membangun jiwa si anak.
3) Anna data, artinya memberikan makan.
Dalam kitab Grhya Sutra seorang suami mempunyai dua kewajiban, yaitu:
1) Memberikan perlindungan pada isteri dan anaknya (patti).
2) Berkewajiban menjamin kesejahteraan isteri dan anak-anaknya.
Dalam kitab Nitisastra VII.3 kewajiban suami/bapak dalam keluarga ada 5 jumlahnya yang disebut Panca Wida, yaitu:
1) Matulung urip rikalaning baya, artinya menyelamatkan keluarga pada saat bahaya.
2) Nitya maweh bhinojana, artinya selalu mengusahakan makanan yang sehat, yang satwika.
3) Mangupadyaya, artinya memberi ilmu pengetahuan kepada warga rumah.
4) Anyangaskara, artinya menyucikan anak atau membina mental spiritual anak.
5) Sang ametwaken, artinya sebagai penyebab lahirnya anak.
Dalam kitab Veda smrthi Bab III.45 s.d 60 mengurai tugas suami adalah membangun Grahajagadhita dengan cara:
1) Menggauli isterinya kecuali pada perwani.
2) Merasa puas dengan isterinya seorang.
3) Menghormati isterinya.
4) Merasa bahagia dengan isterinya.
Dalam kitab Veda smrthi Bab IX.3, suami/bapak adalah sebagai pelindung isterinya yang lengkapnya tersurat sebagai berikut: “Selagi ia (isteri) masih kecil seorang ayahlah yang melindungi, dan setelah dewasa suaminyalah yang melindunginya dan setelah ia tua putra-putrinyalah yang melindungi, wanita tidak pernah layak bebas dari perlindungan.“
Secara lebih terperinci tugas suami dalam keluarga menurut Veda Smrthi Bab IX.2, 3, 9, dan 11 dapat disampaikan sebagai berikut:
1) Wajib melindungi isteri dan anak-anaknya serta memperlakukan isteri dengan sopan dan hormat. Wajib memelihara kesucian hubungan dengan saling mempercayai sehingga terjamin kerukunan dan keharmonisan rumah tangga.
2) Suami hendaknya menyerahkan harta kekayaan dan menugaskan isterinya untuk mengurus harta rumah tangga, urusan dapur, yadnya, serta ekonomi keluarga.
3) Suami wajib menggauli isterinya dan mengusahakan agar antara mereka sama-sama menjamin kesucian keturunannya serta menjauhkan diri dari unsur-unsur yang mengakibatkan perceraian.
4) Suami hendaknya selalu merasa puas dan berbahagia bersama isterinya karena dalam rumah tangga apabila suami-isteri merasa puas, maka rumah tangga itu akan terpelihara kelangsungannya.
5) Suami wajib menjalankan tugas dan kewajiban sebagai anggota masyarakat, bangsa, dan negara dengan baik (dharma grahastha, kula dharma)
6) Suami/ayah wajib mengawinkan putra-putrinya pada waktunya.
7) Suami wajib melakukan sraddha, pemujaan terhadap leluhur (pitra puja), memelihara cucunya dan melaksanakan panca yadnya.
2. Tugas dan Kewajiban Isteri Dalam rumah tangga Perempuan disebut isteri karena ia mempunyai suami. Wanita yang sudah menikah disebut isteri. Kata “isteri” berasal dari bahasa sanskerta “Stri“ yang berarti pengikat kasih. Fungsi isteri adalah menjaga jalinan kasih sayang keluarga (suami dan anak anaknya). Anak haruslah dibangun jiwa dan raganya dengan curahan kasih ibu. Prabu Yudistira dalam kitab Mahabharata mengatakan isteri itu sebagai ibu dalam rumah tangga, juga sebagai dewi dan permaisuri. Kata “permaisuri” berasal dari kata parama yang artinya utama dan iswari yang artinya pemimpin Sebagai “dewi” artinya isteri sebagai sinar dalam keluarga dan sebagai permaisuri isteri adalah pemimpin yang utama dalam mengatur tata hubungan, tatagraha, tata bhoga, tata keuangan, dan sebagainya. Adapun tugas dan kewajiban isteri/ibu adalah:
1) Melahirkan dan memelihara anak/putranya serta memberi kebahagiaan kepada suami dan anak-anaknya.
2) Ramah kepada suami dan seluruh anggota keluarga suami.
3) Bersama baik dalam suka maupun dalam duka dengan suami dan anak-anak.
4) Memberi kebahagiaan dan keberuntungan kepada suami dan mertua.
5) Menjadi pengayom bagi seluruh keluarga (Veda Smrthi Bab IX. 26).
6) Berpenampilan lemah lembut dan simpatik. (Rg Weda VII 33.19).
7) Menjadi pelopor kebaikan dalam keluarga (Yajur weda XIV.21).
8) Patuh kepada suaminya (Rg Weda X. 85, 43).
9) Setia kepada suami, senantiasa waspada, tahan uji, menghormat yang lebih tua. (Atharwa weda XIV.1.41, Rg Weda X.85.27, Atharwa Weda XIV.2.20).
10) Isteri sebagai Ibu Rumah Tangga (Atharwa weda).
11) Isteri sebagai penerus keturunan (Manu Smrthi XI.26).
12) Isteri sebagai pembimbing anak (Nitisastra, IV.21).
13) Isteri sebagai penyelenggara aktivitas agama (Manawa dharma sastra VI.28). Kaitannya dengan upacara persembahan (yadnya) dalam kitab Manawa Dharmasastra III.56 disebutkan: di mana wanita tidak dihormati maka tidak ada upacara persembahan yang memberi kebahagiaan dan pahala mulia.
Tugas dan kewajiban Anak1) Menuntut ilmu pengetahuan (masa brahmacarya)
2) Menghormati orang tuanya (ibu dan bapak) (Sarasamuccaya 239)
3) Menjadi anak yang suputra (menjaga nama baik keluarga, berpengetahuan, cerdik cendekiawan, memiliki wawasan berpikir yang luas dan memiliki budi pekerti yang luhur) (Sarasamuccaya 228).
4) Menyenangkan hati kedua orang tuanya dan tidak boleh berkata kasar kepada orang tuanya.
Om santi-santi-santi Om

No comments:

Post a Comment