| By Ketut Oka,
on 28-07-2009 22:19
|
Views : 1062 |
Favoured : 31 |
Published in : Hindu Dharma, Tatwa |
Oleh I Wayan Sudarma, S.Ag (Shri Danu D.P) Pengertian
Makanan Vegetarian Dalam bahasa latin, Vegetarian bersumber dari kata “ Vegetabilis” yang artinya berpantang makanan yang bersumber dari kehidupan dengan kata lain diartikan sebagai pemberi kehidupan. Kata Vegetarian dalam bahasa Inggris berasal dari kata “ Vegetable “ yang artinya sayuran, juga dapat diartikan berasal dari kata “ Vegetation “ yang artinya berpantang makan daging. Sedangkan menurut C.W. Leadbeater, Vegetarian adalah hidup yang berpantang terhadap segala makanan yang berasal atau diperoleh dengan jalan penyembelihan binatang-binatang termasuk jenis burung dan ikan. ( Dharmayasa,1989: 3). Adapun dalam pengertian di atas vegetarian dibedakan atas tiga jenis yaitu : - Lacto Vegetarian : Tidak memakan daging-dagingan maupun telur. Tetapi memperbolehkan minum susu
- Lacto-Ovo Vegetarian : Hanya memakan jenis sayur-sayunan dan telur. Golongan ini memperbolehkan minum susu.
- Vegan : Tidak memakan daging-dagingan, telur dan susu. Hanya sayur dan buah saja.
Keuntungan Makanan VegetarianMenurut C.W. Leadbeater , dengan hidup Vegetarian atau berpantang makan daging akan mendapatkan keuntungan-keuntungan diantaranya : - Makanan Vegetarian lebih banyak mengandung zat makanan; Sayuran, buah-buahan dan kacang-kacangan mengandung lebih banyak zat gizi yang berguna untuk tubuh dibandingkan dengan sejumlah makanan yang sama banyaknya yang berasal dari daging.
- Makanan Vegetarian mengurangi penyakit; Banyak penyakit-penyakit gawat yang timbul dari kebiasaan memakan daging dan ikan. Beberapa peneliti mempunyai pengalaman tentang makanan Vegetarian maupun daging seperti di bawah ini :
- Dr.Josiah Oldfield mengatakan bahwa daging merupakan makanan yang tidak alamiah karena cenderung menimbulkan gangguan fungsional tubuh.
- Sir Robert Cristison, M.D menyatakan dengan tegas bahwa daging–dagingan dijangkiti oleh berbagai jenis penyakit diantaranya Anthrax yang bersumber dari panas tubuh binatang.
- Dr.J.H. Kellog mengemukakan pendapat yang serupa dengan para ilmuwan lainnya bahwa daging binatang adalah bukan sebagai makanan yang murni tetapi sudah bercampur dengan berbagai zat beracun yang sifatnya merusak. ( Darmayasa, 1997 : 5 )
- Makanan Vegetarian lebih bersifat alamiah bagi manusia; Manusia secara alamiah tidak diciptakan sebagai makhluk pemakan daging, manusia seharusnya makan jenis sayuran dan buah. Pernyataan ini dipertegas oleh Sylvester Graham “Bahwa manusia hakekatnya merupakan pemakan buah-buahan, biji-bijian dan sayur-sayuran karena susunan organ tubuh manusia menunjukkan bahwa manusia seharusnya hidup secara Vegetarian.
Adapun perbedaan organ tubuh makhluk pemakan daging dengan makhluk yang tidak memakan daging sebagai berikut :
| Organ | Pemakan Daging
| Bukan Pemakan Daging | | Gigi | Runcing, tajam dan kuat
| Rata dan rapih | | Mulut | Dapat membuka lebar | Pembukaan mulut kecil | | Usus | Pendek | Panjang
| | Lidah | Menjulur keluar
| Pendek
| | Salivasi | Mulut (Air Liur )
| Pori-pori kulit
| | Graham | Bergerak naik turun
| Bergerak ke segala arah
| | Enzim | Tidak memiliki enzim pzytin
| Memiliki enzim pzyatin
|
(Dirumuskan oleh penulis sendiri dari buku Ahimsa dan Vegetarian, Darmayasa, 1997) Dari perbedaan organ diatas dapat disimpulkan bahwa manusia lebih mendekati pada ciri-ciri makhluk yang tidak memakan daging.
- Makanan Vegetarian mempunyai energi yang sama bahkan lebih dibanding makanan bukan Vegetarian. Dalam Ilmu kesehatan diyakini bahwa Lesitin adalah salah satu zat yang sangat dibutuhkan tubuh untuk pencegahan penuaan dini dan sangat membantu proses peremajaan sel-sel tubuh. Zat ini banyak bersumber pada zat makanan baik hewani maupun nabati, namun menurut hasil penelitian Dr.Edward, Lesitin ini lebih banyak ditemui pada sumber makanan nabati seperti kacang-kacangan contohnya kedelai.
- Makanan Vegetarian mengurangi sifat kebinatangan dalam diri manusia; Makanan Daging dan ikan meningkatkan nafsu kebinatangan pada diri manusia, lebih-lebih ada kecenderungan untuk minum-minuman alkohol. Kita dapat mengatakan bahwa mudah tersinggung, marah, dan kesalahpahaman merupakan ciri-ciri kelebihan mengkonsumsi daging. Bramwell Booth menyatakan bahwa “ Cara makan sayur-sayuran diperlukan untuk kemurnian serta untuk kesucian hati dan untuk mengendalikan sepenuhnya nafsu buruk dalam diri” .
- Makanan Vegetarian lebih ekonomis dan hemat; Makanan jenis sayur-sayuran dan buah-buahan dalam jumlah yang sama tentu harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan daging atau ikan selain itu pengolahannya juga lebih mudah tidak membutuhkan waktu yang lama. Selain itu dari segi sumber daya manusia dengan makin banyaknya kebutuhan akan sayur dan buah akan lebih banyak menyerap tenaga kerja untuk bercocok tanam daripada hanya berternak yang cukup membutuhkan padang rumput yang luas saja.
Vegetarian Ditinjau Dari Pandangan Kerohanian. Kendalikanlah lidahmu sebelum ia mengendalikanmu ! demikian sebuah pepatah Barat yang patut kita renungkan. Kitab suci Veda menganjurkan agar kita mengendalikan indrya-indrya, sebab indrya-indrya meiliki dorongan-dorongan yang sangat kuat untuk dipuaskan. Di antara dorongan-dorongan yang sangat kuat itu paling sulit dikendalikan adalah lidah, perut dan dorongan kemaluan (Jihva-vegam udaropasthavegam). Ketiga ini merupakan satu garis lurus. Di antara ketiga ini lidah adalah akarnya, lidahlah yang paling sulit dikendalikan. Jika lidah kurang dikendalikan seeorang akan gampang berada dalam kebingungan, kegelapan, hawa nafsu kelamin selalu mengganggu dan lain-lain. Lidah adalah akar dari pohon penderitaan dalam diri manusia. Dalam kitab Yajurveda 2-34, disebutkan: “ujrjam vahantiramrtam ghrtam payah kila lamparisutam svadha stha tarpayata me pitrn”. “Wahai semua manusia yang berkeinginan mendapatkan moksa, puaslah engkau dengan memakan makanan yang manis seperti mentega, susu sapi, buah-buahan yang matang, dan air, oleh karena semuanya itu mengandung gizi yang baik” (Somvir,2001: 239). Dari Mantra di atas dapat diketahui bahwa selain menyelidiki Tuhan, Atma dan tujuan kehidupan manusia, para rsi juga menyelidiki tentang makanan, termasuk apa yang perlu dimakan dan apa yang tidak boleh dimakan. Para rsi percaya bahwa melalui makanan yang sattvika kita menyucikan satva dan penyucian satva ini akan menyebabkan daya ingat kita menjadi berkembang. Dengan makan makanan yang mengandung dosa seseorang akan cepat meninggal. Dalam Veda kita disarankan makan makanan yang sattvika. Makanan sattvika meliputi nasi, sayur-sayuran, mentega, susu dan yang tumbuh dari alam. Makanan sattvika akan membantu mengendalikan pikiran dan mendekatkan diri dengan Tuhan. Jika seseorang sudah menjadi sattvika, dia tidak ingin binatang-binatang dibunuh untuk dimakan karena pada waktu itu akan muncul pikiran bahwa seluruh makhluk yang ada hidup bersama dengan bahagia. Jika kita membunuh binatang maka live dan let live akan hilang. Oleh karena itu terdapat banyak mantra dalam Veda yang mengatakan; Jangan membunuh binatang-binatang, tetapi lindungilah mereka. Untuk mengetahui pendapat Veda tentang makanan sattvika dikatakan “ Membunuh makhluk yang tidak bersalah adalah dosa, untuk itu dikatakan wahai himsa jangan kamu membunuh sapi, kuda dan manusia di mana pun kamu (himsa) bersembunyi kami kan mengeluarkanmu” (atharvaveda X. 1. 29). Demikian pula dalam Rgveda X. 46. 5 disebutkan “bahwa seseorang vanaprastha yang tinggal di hutan diharapkan tidak dapat gangguan dari binatang-binatang karena di makan buah-buahan dan sayur-sayuran”. Dengan demikian tidak ada satupun contoh dalam seluruh Veda yang mengajarkan pembunuhan terhadap binatang bagi kebahagiaan manusia, karena dalam mantra-mantra Veda dikatakan bahwa semua makhluk yang ada di dunia hidup bersama dengan bahagia tanpa gangguan siapapun. Dalam kitab Manavadharmasastra; ”makanan tamasa, yaitu daging, dan miniman keras bukanlah makanan untuk manusia tatapi makanan untuk para raksasa dan para paisaca”. (Pudja, 1996 : 282 ) Dengan demikian jelas jiak seseorang ingin mencari kebahagiaan dan ingin mendekatkan diri kepada Tuhan, lebih baik memakan makanan yang sattvika yaitu melalui vegetarian, karena makanan vegetarian menghindarkan diri dari pembunuhan terhadap makhluk lain. Memakan makanan yang tamasa seperti daging akan sangat sulit bagi seseorang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dibandingkan dengan seorang yang makan makanan tamas, seorang vegetarian akan lebih cepat mendapatkan moksa, bebas dari segala penyakit dan hidupnya juga akan panjang. Dalam berbagai lontar warisan leluhur kita diajarkan berbagi jenis brata yang tanpa daging. Hal ini dimaksudkan sebagai ajakan secara halus untuk mengendalikan lidah dengan cara mempraktekan ahimsa dan gaya hidup vegetarian. Pengaturan makanan yang baik memungkinkan orang untuk sukses dalam kehidupan jasmani dan kerohanian. Dalam Lontar Aji brata banyak dijelaskan tentang pengendalian lidah secara panjang lebar dan dengan berbagai tapasya. Salah satunya ada yang disebut Brata Nyaraswati, yaitu: “Hana brata Nyaraswati, nga. Tan pamangan sekul iniliran kewala tumpeng juga tan pahiwak, kewala uyah setahun tigang lek samayanya, bhatari Raja Laksmi hyangnya. Ma: Ong sri raja laksmye namah. Pamit. Phalanya: teka guna, mwang siddha saprayojananta, teher subaga kita mwang sih ning malakya rabi” (Lontar Aji Brata, transkrip ke huruf latin: 3). “Ada brata Nyaraswati namanya: tidak makan nasi (iniliran = hanyut atau diganti ?), makan tumpeng, tanpa ikan, lauknya hanya garam setahun tiga bulan lamanya. Bhatari Laksmi dewatanya, mantram: Ong sri Raja laksmye namah, adapaun hasil yang diperoleh adalah kepinteran atau kebijaksanaan, tercapai segala yang diangan-angankan, terkenal, rukun dalam rumah tangga”. Dari sini dapat dipahami bahwa antara vegetarian dan ahimsa memang tidak dapat dipisahkan, namun dalam kenyataan kita sering melihat dan melakukan himsa karma terhadap segala jenis makhluk hidup untuk dikonsumsi setiap hari. Untuk lebih jelasnya pemahaman kita tentang keterkaitannya maka penulis akan mengutipkan beberapa pengertian ahimsa. Dalam buku Kamus Jawa kuna-indonesia kata ahimsa berarti tanpa kekerasan, sedangkan kata ahingsa berarti tidak melukai atau tidak membunuh makhluk lain. Doa Puja Trisandhya mantram kelima menyatakan Sarva prani hitankarah, artinya semogalah semua makhluk sejahtera, menunjukkan doa kita yang universal. Jadi ahimsa adalah tidak menyakiti hati siapapun, jangan mengganggu, tidak merugikan makhluk lain, apalagi mereka pernah berjasa. Setiap umat manusia dianjurkan untuk tidak membunuh binatang, jenis burung, dan segala jenis ikan, lebih-lebih yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Ahimsa merupakan norma kesusilaan yang dapat memberikan jalan untuk mencapai kesempurnaan penyucian batin atau rohani. Berkaitan dengan itu dalanm Yoga Sara Sanggraha dikatakan: “ Ahimsayah paro dharmah” yang artinya kebaikan adalah dharma tertinggi, terdapat pada ahimsa. Kalimat ini mengandung syarat agar manusia dapat menanam dan menumbuhsuburkan sifat humanisme dalam diri. Sifat humanisme itu dapat berwujud dengan sifat-sifat lemah lembut, cinta kasih, persaudaraan, simpatik, rendah hati dan lain sebagainya yang semuanya itu berpangkal pada cetakan budhi luhur atau indrya yang terkendali. Untuk menciptakan sifat-sifat tersebut dalam kehidupan manusia hanya dapat dengan melaksanakan kehidupan vegetaris. Manusia adalah makhluk berguna, perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor luar (lingkungan) dan faktor dalam yaitu tiga sifat yang dibawa sejak lahir (sattvam rajas dan tamas). Dalam kitab Vrhaspati Tattva. 15 dinyatakan: “Pikiran yang terang dan jernih disebut sattva, pikiran yang selalu berubah-ubah dan bergerak dan bergerak cepat disebut rajas, dan pikiran yang berat dan gelap itu tamas namanya”(Putra & Sadia, 1988: 16). Ketiga guna tersebut bekerjasama dalam diri manusia dalam intensitas yang berbeda-beda, manusia diciptakan oleh Hyang Widhi sebagai makhluk yang termulia dan sempurna di dunia karena kelebihannya berupa akal pikiran. Dengan akal pikirannya itu ia dapat mengubah Triguna itu menjadi Triguna Budhi yaitu: budhi satvvam, budhi rajas akan berlomba-lomba mengejar ilmu pengetahuan. Karena dengan memiliki keunggulan itu menyebabkan manusia mempunyai ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan selanjutnya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia mampu mengubah dan mengatur alam sekitarnya untuk kesejahtreaan di dunia dan akhirat. Hal ini berarti bahwa sesungguhnya hidup ini merupakan suatu perjuangan yang panjang dan terus-menerus. Motivasi yang mendorong manusia berbuat, bergerak dan bekerja secara etis adalah dorongan kodratnya sebagai insane hamba Hyang Widhi. Perbuatan manusia yang didorong oleh kodratnya oleh penciptanya akan melahirkan kebaktian, pengabdian, dan pujstava kepada Hyang widhi. Kehidupan ini merupakan panggilan Hyang Widhi agar manusia senantiasa bersraddha (keimanan) dalam ilmunya dan berilmu dalam sraddhanya. Demikian pula bersraddha dalam amalnya dan beramal dalam sraddhanya. Apabila kesucian yang dikehendaki oleh Hyang Widhi, maka timbul jiwa yang penuh kepercayaan yaitu sraddha kepada Hyang Widhi sebagai sumber segala yang ada di dunia dan memiliki sifat welas asih, kasih saying terhadap sesama makhluk hidup. Amal perbuatan itulah yang dapat mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam hidup dan kehidupan manusia. manusia wajib berlaku etis terhadap alam sekitarnya termasuk dengan makhluk hidup lainnya, ia harus membudayakannya sehingga dengan demikian ia merealisasikan dirinya sebagai makhluk yang berbudhi luhur. Kenyataan hidup bermasyarakat menunjukkan bahwa kehidupan di dunia ini setiap saat perilaku manusia seperti binatang, hal ini dipengaruhi oleh kelemahan dan sekaligus musuh yang ada dalam diri manusia yang tidak dapat ditundukkan. Dalam kitab Bhagavadgita, XIII. 9 disebutkan: “Indriyartheshu Vairagyam, anahankara eva ca, janma mrtyu jara vyaadhi, duhkha dosaanudarsanam”. “Tak peduli pada obyek-obyek indriawi, menjauhkan diri dari bayangan jahatnya kematian, usia tua, kesakitan, dan penderitaan” (Maswinara, 2003: 416) Bilamana penulis uraikan terdapat enam kelemahan yang ada pada manusia, yaitu: Jadma artinya lahir menjelma sebagai manusia menandakan masih adanya kelemahan, karena kalau sudah tidak memiliki kelemahan atau sudah sempurna maka Atman bersatu kembali dengan Brahman. Mrtyu, artinya mati, ada kelahiran pasti ada kematian dan ini pula merupakan salah satu bukti masih ada kelemahan pada diri manusia itu sendiri. Kalau dalam hidup ini sudah mencapai kesempurnaan manusiapun akan mencapai Brahman tanpa meninggalkan jasadnya di dunia ini atau mencapai Adi Moksa. Jara, artinyausia tua, manusia yang lahir ke dunia ini sudah dipastikan akan mencapai usia tua. Itu pertanda manusia tidak dapat mengatasi ruang dan waktu. Ruang dan waktu itulah sebagai ciptaan Hyang Widhi yang membatasi hidup manusia lahir, tumbuh terus semakin tua dan melemah.. dalam keadaan tua ini manusia akan merasakan kelemahannya karena tidak mampu lagi berbuat banyak untuk memelihara hidupnya. Vyadi, artinya sakit, manusia dalam hidupnya tidak dapat hidup steril bersih dari gangguan yang menimbulkan sarira wikarana, yaiyu gangguan penyakit. Sakit adalah kelemahan manusia. Duhkha,artinya duka cita, manusia yang tidak mampu menghadapi berbagai tekanan hidup seperti tekanan fisik maupun fsikis akan menyebabkan terjadinya duka cita. Dosa, artinya berbuat salah, selama manusia hidup tidak melepaskan dirinya dari perbuatan salah. Setiap kesalahan yang berakibat dosa memperlihatkan pahala yang tidak baik dan ini juga merupakan kelemahan manusia. Disamping enam kelemahan manusia di atas juga ada musuh-musuh lain yang senantiasa membuat manusia melakukan tindakan – tindakan yang merugikan bagi kelangsungan hidupnya sendiri maupun kelangsungan hdup makhluk lainnya. Musuh-musuh yang ada pada manusia seperti: Sadripu, Sadatatayi, Saptatimira. Jadi dapat dikatakan bahwa manusia yang terbelenggu dan hanya menuruti nafsu (raga) atau indryanya dinyatakan seagai orang yang aturu (tidur). Sedangkan pada bagian lain buku Vrhaspati Tattva menguraikan dengan mendalam apa yang disebut dan fungsi dari Dasa Indrya. Timbul pertanyaan tentang bagaimana seseorang yang berdosa dan papa dapat terlepas dari papa neraka ?, yaitu dengan menjalankan Brata Vegetarian yang dapat menyadarkan diri manusia akan hakekat jati diri sebagai makhluk sosial ditinjau dari segi kerohanian. Dengan melaksanakan Vegetarian seseorang dapat meningkatkan kesadaran akan sang diri, apabila telah bangkit kesadaran seseorang tentang sang diri maka akan senantiasa matutur ikang Atma ri jatinya. Untuk melenyapkan kepapaan manusia adalah dengan melaksanakan ajaran Brata, salah satunya adalah dengan hidup sebagai Vegetaris. Karena dengan sadhana (latihan –latihan rohani) sajalah yang dapat menemukan kebahagian sejati. Brata hendaknya disertai dengan pelaksanaan susila yaitu aturan tingkah laku yang baik dan benar berdasarkan ajaran Veda. Sehingga Vegetarian akan membawa manfaat rohani yaitu kesucian batin. Seperti diuraikan di depan bahwa manusia mempunyai enam kelemahan, kegelapan dan musuh yang menghambat proses mencapai kebahagiaan, karena itulah Bhagavadgita mengajarkan hendaknya kita selalu merenungkan kelemahan-kelemahan itu. Dengan perenungan itu manusia akan dapat meningkatkan kekuatan Atman untuk menghapuskan gelapnya kelamahan, musuh, dan kegelapan itu. Disamping itu Bhagavadgita juga mengajarkan adanya enam tahapan untuk menghapuskan belenggu itu. Apabila enam usaha ini dapat mencapai hasil yang maksimal maka belenggu yang menghalangi sinar suci atman itupun akan sirna. Enam usaha yang diajarkan oleh Bhagvadgita XII. 16, yaitu: “Anapeksah sucir daksa udasino gata vyatah, Sarvaramba parityagi yo mad bhaktah sa me priyah”. “Dia yang tidak memiliki pengharapan, mahir dalam kegiatan kerja, tak peduli dan tak terusik, yang telah melepaskan segala inisiatif dalam kegiatan kerja, ia juga merupakan bhakta-Ku yang Aku kasihi”( Maswinara, 2003: 408).
Apabila kutipan di atas diuraikan lagi maka akan mendapatkan suatu pemahaman sebagai berikut: - Anapeksah,artinya netral tanpa dorongan keinginan hawa nafsu.
- Sucir, artinya kemurnian jiwa atau rohani.
- Daksa, artinya teguh tak tergoyahkan karena berilmu tinggi.
- Udasinah, arinya tidak mementingkan diri sendiri.
- Gata-vyatah, artinya bebas dari segala duka cita
- Sarvaramba parityagi, artinya orang yang dapat melepaskan diri dari keinginan untuk pamer.
Enam usaha yang diajarkan oleh Bhagvadgita untuk menetralisir belenggu pada diri manusia sudah tercermin pada fungsi Vegetarian, sehingga dalam diri manusia, Atman mencapai tusta; orang yang hidupnya selalu puas dengan Atmanya (Atmanastusti) merupakan wujud penerapan Veda dan inilah yang patut dipakai oleh setiap orang untuk melakukan pendakian hidup kerohaniannya. Makanan mesti disiapkan dengan teliti dan bersih. Makanan yang kotor, basi, berbau, jamuran semua tergolong Tamas. Dengan selalu memakan makanan jenis Rajas dan Tamas maka sifat Rajas dan Tamas itulah yang muncul dan menenggelamkan sifat Sattvam. Dengan sifat Rajas dan Tamas agak sulit kita mendekatkan diri pada Hyang Widhi, terlebih bagi siswa kerohanian pengaturan dan disiplin dalam makanan amat penting. Keberhasilan dalam menempuh jalan kerohanian boleh dikatakan kunci suksesnya adalah melaksanakan ahimsa dan tidak makan daging, ikan-ikanan, telor, bawang putih, dan bawang merah, tidak minum-minuman keras dan lain-lainnya. Selalu hidup dengan makan sederhana tapi bersih serta makan yang sedang dan teratur.Sang Hyang Siva dan Rudra dalam Vratisasana mengajarkan agar orang-orang melakukan pantangan-pantangan seperti tidak membunuh-bunuh, memakan makanan yang bersih dan suci, dan juga tidak boleh mengadakan hubungan kelamin yang tidak syah. Hubungan kelamin hanya dibenarkan hanya dalam hubungan suami istri, dan itupun dilakukan secara teratur atau hanya untuk menurunkan keturunan. Tidak memakan makanan yang mengandung daging, ikan, telor sesunguhnya dimaksudkan pula sebagai pengontrolan indrya-indrya. Salah satu indrya saja tidak terkontrol dapat mengahancurkan hidup dan kecerdasan orang. Apalagi beberapa atau semua indrya tidak pernah dikontrol, dibiarkan berkeliaran semaunya, ini secara pasti membuat orang itu menjadi budak-budak indrya-indrya dan hawa nafsu. Dalam Veda dijelaskan bahwa hawa nafsu adalah musuh yang paling jahat dan paling kuat bagi manusia. Oleh karena itu indrya-indrya yang tidak terkontrol seseorang sepenuhnya terikat dalam kegiatan dosa dan berdasarkan hal ini ia mendapatkan badan yang penuh dengan penderitaan/sakit, cemas, dan lain-lain. Dalam hidup ini vegetarian harus dijadikan prinsip dasar. Prinsip dasar ini yang harus dilakukan adalah prinsip positif dan prinsip negatif, keduanya sebaiknya dilakukan berdampingan atau bersama. Kalau hanya satu prinsip saja yang dilaksanakan memang baik, tetapi kurang lengkap, bagaikan gambelan Bali tanpa ada yang “ nyangsih”. Yang dimaksud dengan prinsip positif adalah tidak mempersembahkan makanan berisi daging, ikan, telor kepada Hyang Widhi. Sedangkan yang dimaksud dengan prinsip negatif adalah tidak makan daging, ikan dan telor. Seorang penyembah Tuhan yang baik hanya memakan yang sudah dipersembahkan. Memakan makanan yang belum dipersembahkan sama dengan makan dosa sendiri (Bhagavadgita, III.13). Bagi anak-anak makanan vegetarian memberi bantuan besar, karena dengan makan daging dan minum-minuman keras menyebabkan pikiran terganggu. Dengan pikiran terganggu sama sekali tak mungkin untuk melaksanakan meditasi. Bhogesvarya prasaktanam mereka yang terlalu terikat dengan makanan/ kenikmatan duniawi dan kemasyuran, samadhau na vidhiyate – orang seperti itu tidak mungkin sukses dalam meditasi. Meditasi bukanlah pekerjaan bagi orang yang masih sibuk memuaskan nafsu-nafsu duniawi. Untuk meditasi diperlukan seorang Tyagi, yaitu orang yang dengan tegas mau meninggalkan hidup yang terikat duniawi. Tentang makanan yang paling baik standarnya dapat dikemukakan sebagi berikut: - Jati dosa,yaitu makanan harus bebas dari daging, ikan, telor, bawang merah, bawang putih, dan terasi serta bumbu-bumbu lain seperti vetsin dan cuka.
- Nimitta dosa, artinya makanan harus bersih sehingga terjamin tidak ada binatang-binatang yang mati di dalam nasi, sayur, antara lain seperti kutu beras, semut, ulat dan lain-lain.
- Asraya dosa, yaitu makanan hendaknya dimasak oleh orang yang pikirannya sedang damai. Hindarkan makanan yang dimasak oleh orang pendengki, iri hati, pemabuk, suka bertengkar, dan tidak memakan-makanan yang dimasak oleh WTS. Tapi kalau ia meninggalkan kemesuman itu akan kembali hidup baik-baik masakannya boleh dimakan
Demikianlah standar terbaik mengenai makanan vegetarian, namun bagi kita makanan vegetarian bisa diatur sesuai dengan tempat dan keadaan. "Your Hand On Works But Your Heart On God" Last update: 03-08-2009 16:37
|